LOVE,SAD,SECRET ADMIRE,YOU

Rabu, 15 Mei 2013

Beautiful Day for my besties ever



            Ini cerita tentang aku dan sahabatku Lyla.Sahabat terbaik ku selamanya.Ia ini adalah orang yang sempurna.Selain itu ,ia anak baik dan juga berparas cantik dengan rambut panjang tergerai.Aku mengenalnya sejak kepindahannya di depan rumahku.Aku yang awalnya hanya kesepian jadi memiliki teman dan sampai sekarang menjadi sahabat terbaik ku.Dari kecil kami selalu bersama.Dan yang paling unik adalah,ulang tahun ku dan Lyla tepat di hari yang sama.Ini yang membuatku senang,karena kami dapat membagi moment perubahan umur bersama.Dari kecil juga kami selalu bersekolah di sekolah yang sama dan walaupun saat SMP kami beda kelas itu bukan suatu hal yang membuat persahabatan kami hancur.Malahan,kami semakin erat.Dan,Tuhan mengabulkan apa yang kami mau kami di terima di sebuah SMA yang sama dan sekelas.Memang ini kebetulan yang bagus untuk kami.Saat ini kami bersekolah di SMA Tunas Bangsa.Setiap hari kami berangkat naik sepeda bersama.Sepeda ini adalah sepeda yang diberikan orang tuaku dan orang tua Lyla saat kami berusia 14 tahun.Dan sampai sekarang sepeda ini adalah kendaraan kami dimanapun.
            Dikelas aku duduk sebangku dengan Lyla dan juga mendapat satu sahabat lagi Farel.Farel duduk bersama Jason sepupunya sendiri.Jason memang dekat dengan Farel tapi hanya ku anggap sebagai teman biasa karena Jason biasanya bergaul dengan psp dan laptopnya.Di sekolah Farel merupakan idola banget.Banyak cewek-cewek yang suka dan perhatian banget sama dia ,tapi gak ada satupun yang di respon lebih oleh Farel.Farel bukannya anti ,tapi hatinya masih berada di kekasih lampaunya yang meninggal 2 tahun lalu karena kanker darah.Kepergian Kisya membuat nya merasa terpukul karena Kisya adalah cinta pertamanya dan mereka sudah berpacaran selama 3 tahun.Farel juga merupakan murid yang pintar dan juga jago basket.Sama seperti ku,kami tergabung dalam klub basket putra dan putri.Ya bawaanku adalah tomboy yang berbanding terbalik dengan Lyla yang pendiam dan lebih lembut.Hobi Lyla adalah memotret apapun yang ia anggap menarik.
            Besok adalah jadwal kelasku pelajaran matematika.Yap!Pelajaran yang paling membuat ku stress.Jihan!Ya itu aku ,adalah salah satu murid dengan nilai matematika terendah.Awalnya aku sudah putus asa untuk berusaha  keluar zona merah remidi.Tetapi ,kedua sahabatku Farel dan Lyla membuatku berusaha merubah nilaiku dalam pelajaran matematika.Alhasil,ulangan kemarin nilai ku berhasil lah keluar dari zona merah itu.Hari ini Farel dan Lyla seperti biasa,akan bekerja kelompok bersama untuk menjadi guruku.Kali ini kami akan belajar bersama di rumah Farel.Suasana rumahnya yang nyaman dan desain rumahnya yang futuristik membuatku betah berada di sana.
            “Mau makan apa kalian?”tanya Farel di sela-sela belajar.
            “Pizza boleh kok.Hehe.”sahutku dengan ceplas-ceplos ,karena cacing cacing di perut sudah perang.
            “Kalau kamu Lyl?”Farel yang bertanya saat melihat Lyla yang sedang menulis soal untukku.
            “Iya sama kayak Jihan.”
            Sepotong pizza dan juga jus semangka membuat ku kenyang dan membuat otakku menjadi lebih lancarnya untuk belajar.Farel dan Lyla dengan sabar megajariku matematika dan sedikit demi sedikit aku mengerti dengan semuanya.Sore menjelang malam,kini saatnya aku Lyla harus pulang.Hari ini jatahnya Lyla untuk memboncengku pulang,tiba-tiba ,kecelakaan ringan terjadi.Entah mengapa Lyla bisa kehilangan keseimbangan dan kami terjatuh.Lyla pingsan!Hal itu sangat membuatku panik dan tidak tau apa yang harus aku perbuat.Tidak sengaja,om Roy lewat di depan kami.Aku langsung berteriak “Om Roy!!”Mobil om Roy langsung terhenti dan langsung membawa Lyla ke rumah sakit,sedangkan aku langsung menelepon bibi agar mengambil sepedaku di depan komplek.Suasana hatiku tidak nyaman ,apa yang terjadi pada Lyla?kenapa dia pingsan dan saat itu kehilangan konsentrasi.Apa dia kelelahan?Tapi tidak seperti biasanya ia kelelahan seperti ini.Jarak rumah kami dengan rumah Farel tidak terlalu jauh kira-kira 500meter dari komplek perumahan elit rumah Farel.Apa Lyla menderita sakit?Pikiranku kacau segala hal aku pikirkan termasuk hal yang buruk sekalipun.Farel datang dan langsung memelukku.Tangisku semakin menetes deras,tapi jantungku rasanya berdegup kencang tanpa aturan.Farel mungkin memelukku karena ia ingin lebih memberiku ketenangan sehingga aku dapat menceritakan semuanya.Ku rasa sedikit tenang saat pelukan mendekap ku dan setelah Farel melepas pelukan nya,aku mulai bisa bercerita kejadian itu tadi.
            “Aneh!Bagaimana bisa hanya hal seperti itu dia…?”Farel yang kaget mendengar semua penjelasanku tadi.Jelas saja,aku dan Lyla sama-sama jatuh tapi kenapa keadaan Lyla sampai seperti ini ,apakah dia menderita sebuah penyakit parah.Tidak mungkin,selama ini aku kenal Lyla dan ia tidak mungkin menyembunyikan masalahnya.Om Roy yang juga seorag dokter di rumah sakit itu ,keluar dari kamar Lyla dan langsung memberitahuku dan Farel bahwa Lyla baik-baik saja dan dia hanya kecapekan.Tapi tatapan Farel kepada om Roy berbeda.Farel merasa jika om Roy menyembunyikan sesuatu.Kemudian om Roy ijin untuk pergi ke ruang kerjanya.Aku dan Farel langsung masuk ke kamar Lyla.Keadaan Lyla terlihat pucat ,mungkin saja ia benar-benar kecapekan.Tidak lama kami memutuskan untuk pulang,aku ingin Lyla istirahat agar bisa kembali sembuh.Farel mengantarku pulang dengan motornya.
            “Pegangan Ji.Ngebut nih,udah malem lagian kan lo masih pake seragam butuh mandi dan jangan lupa istirahat langsung.”Perhatian Farel membuat jantungku berdegup kencang tak menentu lagi.Aku hanya bisa diam dan mengangguk iya.Selama perjalanan rasanya nyaman sekali saat di bonceng oleh Farel.Tapi waktu berlalu begitu saja,tidak ku sadari sudah berada di depan rumahku.Aku melambaikan tanganku kepada Farel dan berkata”Hati-hati,Rel.”Aku menceritakan semuanya kepada mama dan papa tentang Lyla.Mereka memutuskan untuk menjenguk Lyla besok bersamaku.Malam mulai larut,rasanya kesepian juga jika Lyla tidak main ke rumah sehari saja.Aku tergeletak di kamar sambil melihat langit-langit kamarku penuh lampu bintang-bintang.Tiba-tiba ada yang kuingat dari hari ini selain Lyla,yaitu kejadian malam ini bersama Farel.Rasanya bayangan wajah Farel itu jelas banget,bahkan ngebayanginnya aku bisa senyum senyum sendiri.Apa aku…?Ah gak mungkin,dia sahabatku bukan orang yang aku sayang.Sambil mencoba menutup mata,aku mencoba untuk tidur dan melupakan hal konyol ini.
            Selamat Pagi!Pagi yang lumayan hampa ,pagi ini aku berangkat tanpa naik sepeda dan juga Lyla.Lyla harus istirahat dulu selama 3 hari dan sepeda kesayangan kami harus masuk bengkel sementara.Pagi ini aku berangkat barengan abangku,Jovin.Jovin ini satu sekolah denganku.Ulangan matematika pun di mulai!Pak Harun datang dengan soalnya yang pastinya rumit dan susah dikerjakan.“Semangat ya Ji!”Tiba-tiba dari belakang ku Farel berkata seperti itu.Semangatku pun semakin bertambah,walaupun bukan Lyla yang ngasih semangat ,tapi semangat Farel juga sudah cukup.Benar apa dugaanku,soalnya selalu rumit seperti ini,tapi aku teringat suara semangat Farel membuatku yakin untuk mengerjakan.Jam pulang sekolah pun tiba,saatnya aku pulang.Dimana bang Jovin?Wah,dia ternyata ada les dan membuatku harus pulang sendirian.Di depan pintu gerbang sekolah aku berdiri menunggu angkot atau taksi yang lewat.
            “Pulang bareng yuk.”tiba-tiba ada seorang pria yang menawariku pulang bersama.Farel mengajakku untuk pulang bersama.Dengan senyum pertanda menyanggupi aku langsung diantar pulang oleh Farel.Sore ini aku dan keluarga ku akan menjenguk Lyla di rumah sakit.Sayangnya tidak ada Jovin yang biasanya jadi sopir papa.Dibanding papa,Jovin kelihatannya lebih mahir.Aku membawakan buah dan juga komik yang biasanya kita baca saat senggang.Wajah Lyla terlihat pucat tapi senyum manisnya membuat wajah pucatnya itu seakan memudar.Saat aku mengelus rambutnya ,tiba-tiba beberapa rambutnya rontok di tanganku.
            “Kenapa ini Lyl?”
            “Oh,itu pasti aku belum keramas.Biasalah.”Percaya tidak percaya aku mempercayai omongan Lyla,karena aku yakin dia tidak pernah menyembunyikan apapun dariku
            “Farel mana?”tanya nya dengan lembut.
            “Oh,tadi abis nganter gue,katanya mau latiha basket.”
            “Oh,makasih komiknya.”
            Papa dan mama yang sedang asyik mengobrol dengan om Roy diluar mengajakku pulang untuk makan malam.
            “Selamat malam Roy!Kami ijin pulang dahulu.”Papa berpamitan dan akhirnya kami pun pulang untuk mencari makan malam.Di sebuah kedai makanan,aku mama dan papa,tidak sengaja bertemu dengan Farel dan adiknya Wira.”Tuh kayaknya temen kamu yang,siapa itu namanya Ji?”Papa tiba-tiba memberitahu ku tentang keberadaan Farel dan Wira.”Oh,Farel pa.Bentar aku samperin dulu.Aku langsung pindah ke tempat Farel dan Wira makan.
            “Hey,Cuma berdua?”
            “Eh kamu,Ji.Iya orang tua lagi di Bandung.Ya,ngurus adik lah.”
            “Hai kak Jihan.”Dengan senyumannya Wira menyapaku.Wira adalah seorang anak cowo berusia 13 tahun.Wajahnya mirip sekali dengan Farel,tapi bedanya Wira agak sedikit hitam di bandingkan kakaknya.Tidak terasa aku dan Farel ngobrol sudah cukup lama,papa datang menghampiri ku dan mengajakku pulang.”Duluan nak Farel.”Papa berpamitan dengan Farel dan kami pun pulang.
          
  Pagi!Hari ini Lyla sudah boleh pulang dan kembali bersekolah.Seru-seruan lagi sama Lyla.Seperti biasa kami berangkat naik sepeda berdua.Ya,sepeda kami berdua sudah sembuh juga.Lyla memang masih terlihat sedikit pucat,tapi ia tetap yakin akan masuk sekolah.”Wih,si putri udah sembuh nih.”tiba-tiba Felicia menyindir Lyla yang baru saja duduk di bangkunya.Felicia adalah ketua cheerleader dan terbobsesi banget buat jadi pacarnya Farel.Memang Felicia ini adalah anak yang cantik dan juga kaya,tapi sifatnya itu bikin mau nonjok aja tuh.Egois,sombong dan juga judes.”Eh,biasa aja kali.Dia baru sakit,gausah nyari gara-gara”Dari dulu aku memang sedikit sensi terhadap Felicia.Felicia selalu iri denganku dan juga Lyla karena kami bisa dekat dengan Farel.Farel sendiri tidak begitu merespon nya karena Farel merasa illfeel dengan wanita seperti Felicia.”Ih,ini mulut gue,suka-suka gue,gak level berantem sama lo Ji.”jawaban Felicia yang semakin nyolot membuatku sedikit emosi,untung saja Lyla mampu meredam suasana ,sehingga Felicia berlalu begitu saja.
            “Gue seneng kita kumpul lagi.”ucap Farel yang sedang menunggu pesanan soto ayamnya.Farel merasa aneh mengapa Lyla membawa obat yang banyak sekali.Katanya  cuma penyakit kecapekan?”Obat apaan nih?”Farel bertanya kepada Jihan yang sedang mengeluarkan obat dari sebuah kotak kecilnya.”Ya obat biar dia cepet sembuh lah,Rel.”aku mencoba meyakinkan Farel.Karena dari awal Farel tidak yakin terhadap keadaan Lyla.Lyla hanya tersenyum dan berkata”Iya.Cuma obat biar  agak enakan lah.”Dengan mata yang terpaksa Farel menerima alasan  dari Lyla.Sambil makan soto ayam pesanannya,mata Farel tidak habis-habisnya melihat Lyla dengan obat-obatnya itu.Dari kecil Lyla memang sering mengkonsumsi obat-obatan aneh yang aku tidak tau itu adalah obat apa.Katanya sih Cuma vitamin dan obatnya ketika sakit.Tetapi ada satu obat yang ku rasa tetap diminum Lyla dari kecil hingga sekarang.Entah itu aku yang salah lihat atau memang benar,obat-obat aneh itu kebanyakan sama bentuknya.Tapi aku tetap membiarkan semuanya berlalu dan yakin Lyla baik-baik saja.
            Saat pulang sekolah,aku dan Farel menunggu Lyla yang sedang ulangan susulan di ruang guru.Aku dan Farel menunggu di taman dekat lapangan basket.
            “Ji.”Saat itu aku sedang membaca novel dan tiba-tiba Farel yang mendengarkan musik melepas headset nya dan memanggilku pelan.
            “Kenapa?”sahutku cuek karena aku sedang asyik dalam dunia novelku.
            “Ada yang aneh dari Lyla.Gue rasa dia sakit…”
            “Sakit? Parah maksut lo.Gue dari kecil tau dia itu kayak apa!jadi dia itu baik-baik saja.Emang sih itu obatnya aneh,tapi itu memang vitamin kan Lyla anaknya gampang lemes.”Aku langsung menutup novelku dan sedikit nyolot kepada Farel yang mencurigai sahabatku sendiri.Farel hanya terpaku dan kembali mendengarkan lagu di telinganya.Entah apa yang ada dipikiran Farel setelah aku menjelaskan semuanya.Tapi yang jelas,aku sudah menyatakan yang ku anggap benar.
            “Hi! Guys.Pulang yuk.”Senyum ceria dan lega terlihat dari raut wajah Lyla yang sumringah ketika sudah selesai ujian susulan.Farel segera pulang tanpa berkata apapun terhadap ku dan Lyla.Motornya berlalu begitu saja.Ya,mungkin dia sedikit marah karena aku sempet nyolot sama dia,tapi sudahlah mungkin dia hanya mencoba memahami.”Kenapa sih Farel?”Lyla bertanya keanehan Farel siang itu.”PMS kali,udah biarin aja.”Dengan candaanku ,aku menutupi pembicaraanku dengan Farel tadi.Dan kami langsung memutuskan untuk pulang.Malam ini malam ku tidak sepi lagi,Lyla seperti biasa datang ke rumahku untuk bermain atau sekedar bercerita di kamarku.Ini adalah tempat favorit kita berdua sejak kecil,segala permasalahan hari ini selalu kami ceritakan bersama dan tidak lupa kamera Lyla di bawa untuk kami narsis bersama.
**
            Sambil duduk merenung di ruang tamu,Farel merenungi perkataan Jihan tadi.Mungkin saja Jihan ada benarnya.Mungkin ini semua hanya ketakutannya kehilangan sahabatnya,Lyla.Farel agak sedikit terlihat trauma melihat orang yang harus meminum obat banyak,karena Kisya tidak pernah menceritakan penyakitnya kepada Farel.Dan saat Kisya meninggal ,Farel begitu terpukul.Hari-harinya sempat terasa gelap.Sampai-sampai ia harus di rawat di rumah sakit karena keadaanya yang drop.Kejadian tadi siang,membuatnya teringat kembali kepada Kisya,cinta pertama yang memberi kesan bahagia dalam hidupnya.Dalam hidupnya Kisya adalah pelangi yang datang setelah hujan yang lama,memberi warna tersendiri di hidupnya.Saat meratapi foto Kisya dan dirinya ,tak disangka air mata Farel jatuh.
***
            Karena tidak terasa sudah larut malam,saking serunya mereka ngobrol membuat Lyla lupa untuk pulang dan ia memutuskan untuk tidur di rumah ku.Hal ini sudah biasa ku lakukan dengan Lyla sejak dulu.Seperti biasanya sebelum tidur ,Lyla harus meminum beberapa jenis obatnya itu.Dari dulu aku juga tidak ingin bertanya apapun masalah obat-obatnya itu,tapi omongan Farel terngiang kembali di pikiranku.Aku mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya kepada Lyla tanpa bermaksut untuk menyinggungnya.Ternyata setelah aku menanyakan semuanya ke Lyla,jawaban yang sama dilontarkan Lyla.Aku merasa bego,kenapa aku harus bertanya berkali-kali kepada Lyla,padahal dari kecil aku sudah tau apa maksut semua nya.Lampu  kamar ku matikan,dan bintang-bintang di langit kamarku terlihat indah dan membuat malam ku bersama Lyla menjadi indah.Paginya saat aku bangun,aku melihat ada sepucuk surat dari Lyla ,Lyla ternyata sudah pulang karena ia harus pulang.Tunggu sebentar,kenapa ada seperti percikan darah di kertasnya?Ah,aku yakin itu hanya hiasan dari kertasnya,karena kertas tersebut ada hiasan berwarna merah.Ku pikir itu bukan darah itu hanya hiasan.
            Sementara itu,Lyla yang sejak shubuh bangun dan pulang ke rumah dengan keadaan mimisan dan bajunya terdapat noda darah.
            “Pa,penyakitku?”Lyla menangis di depan ayahnya saat selesai membersihkan darah mimisannya.
            “Tenang,papa yakin ada donor untukmu nak.”
            “Tapi,apa ada orang yang punya hubungan sedarah denganku?”
            “Percayalah Lyla sayang ,hidupmu akan bertahan selamaya bersama papa.”Air mata om Roy dan Lyla tidak terbendung,mereka berpelukan erat seakan tidak ingin dilepas.
            Pagi ini,aku seperti biasa mengampiri Lyla di rumahnya.Ternyata saat ku panggil-panggil nama Lyla ,yang keluar adalah om Roy dan berkata bahwa hari ini Lyla tidak masuk lagi karena ada urusan keluarga.Lagi-lagi aku harus pergi ke sekolah tanpa Lyla.Wajahku terlihat lemas tanpa semangat saat menuntun sepeda ku.Bahkan saat perjalanan ku ke kelas.”Lo kenapa Ji?”Farel yang saat itu memilih untuk duduk bersama ku karena Jason juga tidak masuk.”Oh,gue?Lyla gak masuk lagi karena dia ada acara keluarga kata om Roy.”jawabku pelan.”Ha,tidak mungkin,pasti ada sesuatu tuh.Pulang sekolah ke rumahnya yuk.”Farel mengajakku ke rumah Lyla.Sejak kejadian itu,Farel jadi orang yang gampang curiga terhadap Lyla.Firasat nya selalu berkata bahwa Lyla menderita sesuatu penyakit yang parah.Ajakan Farel itu terus terngiang di kepalaku.Mungkin saja Farel benar,wajah om Roy saat berbicara seperti itu kepada ku aneh,matanya seakan berbohong tapi mulutnya seakan meyakinkan ku untuk percaya.Aku memutuskan meninggalkan sepeda ku di sekolah dan pergi ke rumah Lyla bersama Farel.Bukannya aku tidak percaya kepada om Roy dan Lyla ,tetapi mau bagaimana lagi hati kecilku juga merasa penasaran.    
            Tibalah kami datang di depan gerbang rumah Lyla.Keadaan rumah Lyla saat itu sedang sepi sekali.Hanya ada pembantunya saja.Tentu saja,mbok Nah sudah mengenal ku sejak dulu,jadi aku bebas keluar masuk dan menganggap rumah Lyla seperti rumahku sendiri.
            “Bik,Lyla ada?”
            “Iya non ada di kamarnya.”Pernyataan dari mbok Nah itu membuatku merasa Lyla berbohong besar padaku.Apa sebenarnya yang terjadin pada Lyla?Apakah benar dia sakit atau kah ada yang lain?Aku dan Farel berjalan menuju arah kamar Lyla tanpa suara.Ternyata Lyla berada di kamarnya sedang terlihat berdiri di balik jendela
            “Lyla.”suara Farel terdengar dan membuat Lyla kaget dan langsung duduk di atas kasurnya ,air matanya tiba-tiba deras menghujani pipinya,tangisan itu terlihat sebuah tangisan penyesalan.Aku langsung memeluk erat Lyla dan Farel mengambil kursi dan duduk di hadapanku dan Lyla.Lyla menceritakan semuanya,selama ini dia menyembunyikan dari Farel dan aku karena ia tidak ingin membebani pikiran kami berdua.Sempat terbesit rasa kecewa di benakku,kenapa sahabatku ini tidak bercerita kepada ku?tapi aku coba berfikir dewasa dan memaafkan Lyla,Lyla butuh semangat dari aku dan Farel karena keadaan Lyla memang semakin memburuk.Aku dan Farel tidak berlama-lama berada di kamar Lyla,karena aku tau Lyla harus banyak istirahat.Aku dan Farel memutuskan untuk keluar kamar saat Lyla sudah terlelap dalam tidurnya.Wajah Lyla sangat cantik walaupun saat tidur.
            Saat kami keluar dari kamar Lyla,kami melihat om Roy yang sedang duduk dengan ekspresi gundahnya.
            “Mari om.”aku dan Farel kompak berkata seperti itu.Lalu om Roy mengentikan ku sementara dan berharap aku memaafkan Lyla.Hidup Lyla memang sebentar lagi akan berakhir,prediksi dokter adalah satu bulan.Karena penyakit leukemia Lyla sudah stadium akhir.Hal ini membuat pukulan berarti bagiku,apakah harus secepat ini aku dan Lyla berpisah?rasanya baru kemarin kami berkenalan.Aku juga belum siap harus menjalani hari ku tanpa Lyla.Begitu juga dengan Farel,aku yakin Farel merasakan hal yang sama denganku.Mungkin Farel akan lebih tegar karena sebelumnya ia pernah kehilangan orang yang berharga,Kisya.Perkataan om Roy membuatku terus teringat dan membuatku sedih memikirkannya,jika benar sebulan,apa yang harus aku lakukan agar membuatnya bahagia?dia sahabat terbaik ku dan aku ingin membuatnya tersenyum sejenak dalam sakitnya.
            Ternyata predikisi dokter telah melenceng,1 tahun sudah aku Farel dan Lyla berteman dengan keadaan Lyla yang bisa di bilang di ujung jalan.Lyla mencoba bertahan dari penyakitnya karena om Roy aku Farel dan juga semua orang yang di sayanginya.Rambutnya kini menjadi botak dan ia memutuskan untuk menggunaka kerudung karena itu adalah nasarnya jika ia menjadi gundul.Setiap malam aku ingin menangis saat Lyla bermain di rumahku,aku berusaha tegar, setegar Lyla melawan penyakit nya itu.Lyla sudah kelihatan pasrah karena sampai sekarang belum ada yang bisa mendonorkan sumsum tulang belakang kepadanya.Andai saja aku saudaranya ,aku akan rela menyumbangkannya,tapi apa daya semua itu tidak akan terjadi.Hari ini adalah hari dimana pengumuman kelulusan di umumkan.Aku Farel dan Lyla lulus dengan nilai memuaskan.Kami bertiga berjanji akan berkuliah bersama di Milan.Tapi,rasanya berat kalau memikirkan sampai ke arah kuliah,keadaan Lyla semakin memburuk.Wajahnya pucat dan hidungnya selalu mimisan tanpa kenal waktu.
            Tuhan,jika ini hari terakhirku bersama Lyla aku dan Farel berjanji akan membawa Lyla hidup satu hari saja untuk bahagia.Berikan kami kekuatan jika memang Lyla harus pergi .Selama ini Lyla hanya menjalani rawat jalan,ia tidak mau untuk di rawat intensif di rumah sakit ternama di Jepang.Ia tidak mau hari terakhirnya tanpa aku dan Farel.Om Roy terpaksa menyanggupi permintaan Lyla karena tidak tega dengan Lyla.Karena ke nekatannya itu keadaanya jadi semakin memburuk dan tidak ada tanda-tanda ia akan sembuh.Hari ini setelah pengumuman kelulusan aku dan Farel mengajak Lyla untuk menikmati matahari tenggelam di lapangan kosong belakang komplek rumah.Ini adalah tempat favorit aku dan Lyla sejak kecil.Lyla yang selalu membawa kameranya kemana-mana dan hari itu ia meminta sopirnya untuk memotret kami bertiga.Aku merasa seakan itu adalah foto terakhir ku bersama Lyla.”Guys,ingatlah aku kenanglah aku selalu di hati kalian saat aku harus memejamkan mataku selamanya tanpa aku sanggup membukanya lagi.”tiba-tiba Lyla berkata seperti itu padaku dan Farel.air mata ku dan Farel seakan tidak bisa dihentikan untuk mengalir dan ketika itu matahari mulai mencoba menenggelamkan sinarnya,mata Lyla juga mulai tertutup seakan tak akan terbuka untuk selamanya.Lyla meninggalkan kameranya kepadaku dan Farel agar kami mengingat Lyla selamanya.Selama ini alasan Lyla menyukai photografi adalah untuk mengenang hari-harinya bersama orang-orang yang ia sayangi dan orang-orang yang akan ia tinggalkan dalam tidur panjangnya.
            Selamat jalan sahabatku,kamu pernah mengukir indahnya hari bersamaku.Berbagi rasa bahagia dan tangis bersama dalam sebuah ikatan persahabatan.Kamu yang saat ini di surga,aku mohon tetap mengingatku disini sebagai sahabatmu dan tunggu aku di keabadian nanti saat Tuhan akan mempertemukanku bersamamu lagi.You will not replaced Lyla…
Love: Farel and Jihan.Your best friend ever.
            Ku tinggalkan sepucuk  makam Lyla dengan seluruh air mata ku,aku  dan Farel pergi dan berharap malaikat akan menyampaikan surat kami kepada Lyla di surga.Kami juga memohon agar Tuhan memberikan Lyla kehidupan bahagia di keabadian.
-AP-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar