LOVE,SAD,SECRET ADMIRE,YOU

Jumat, 31 Mei 2013

Benteng Kita Berbeda


Biasanya kelulusan merupakan hal yang paling membahagiakan,tapi aku hanya awalnya saja.Waktu itu kami dikumpulkan di lapangan basket.Kepala sekolahku yang kece mengumumkan jika SMA Nusantara lulus 100%.Semua murid bersorak gembira.Akupun juga merasa gembira,tapi ada suatu hal lagi yang membuatku bahagia.Leon,kekasihku waktu itu menjadi peraih nilai danum tertinggi satu sekolah.Leon langsung maju ke depan untuk menerima ucapan selamat dari bapak kepala sekolah.Mata indahnya dan senyum nya tidak asing lagi bagiku,tapi perkataannya begitu asing.Leon sama sekali tidak menyebut namaku,padahal aku dan dia sering belajar bersama.Entahlah,mungkin dia hanya ingin berkata seadanya saja.
            Malamnya, Leon menjemputku untuk merayakan keberhasilannya hari itu.Sebuah keberhasilan yang sebelumnya belum pernah dibayangkan Leon.Aku diajak di sebuah café malam itu,semuanya terlihat biasa,semuanya terlihat seperti kencan pada umunya.Apalagi itu malam minggu,aku suka sekali.Karena waktuku bersama Leon dapat lebih lama lagi.Aku dan Leon sudah berpacaran selama 2 tahun dengan perbedaan agama.Selama itu juga orang tuaku juga belum tau tentang Leon.Mereka hanya tau Leon adalah kekasihku,tanpa tahu apa kepercayaannya.Berbeda dengan keluarga Leon,mama nya mengetahui kalau keyakinan kami berbeda.Dan selama itulah aku dan Leon  berhubungan tanpa restu yang jelas.Kini kami sudah semakin dewasa,tapi kami tidak akan pernah tahu ,apakah kami bisa bersatu karena perbedaan yang sulit untuk di satukan.Sebenarnya ,tidak ada masalah jika salah satu dari kami mau mengalah,tapi kami sudah yakin pada benteng kekuatan iman kami masing-masing.
            “Kita memang berbeda.”ucap Leon tiba-tiba
            “Memang.Tapi,aku yakin semuanya akan indah nantinya.Jodohkan tidak melihat agama juga?”jawabku ringan.
            “Tapi karena itu semua,kita tidak punya muara?”
            “Leon,yakinlah.Tuhan memang satu,kita memang tak sama.Tapi nanti Tuhan akan mendengar doa kita untuk tetap bersatu.”
            “Tapi,Wenda!Maaf aku tidak bisa melanjutkan semua ini.Ini bukan untuk kita.Aku harus pergi.Kita berbeda.Kita gak mungkin satu walaupun Tuhan hanya satu.”
            “Tapi Le?”Aku langsung pergi keluar dari café itu dengan segenap airmataku,kenapa Leon tidak mau mempertahankan perbedaan ini.Kenapa dia tidak mau berkorban demiku.Apakah dia sudah menyerah untuk menembus benteng imanku?Aku berlari keluar tanpa memperdulikan hujan yang jatuh menemaniku.Saat berlari aku terjatuh,rapuh sudah tubuhku.Aku tidak berpikir panjang untuk bangun dan bangkit.Aku sudah sakit.Leon memelukku dari belakang,pelukannya terasa hangat diantara dinginnya hujan.Aku berbalik badan dan langsung disapa dengan kecupan kening yang halus dari Leon.
            “Kita berjarak,Wen.Aku harap kamu akan mendapatkan dia yang seiman denganmu.”
            Air mataku semakin deras…
            “Aku…aku sayang kamu banget,Le.Please!Demi semuanya,pertahanin aku.”
            “Cinta harus pergi.Walaupun aku buat kamu.Kita berbeda,walaupun Tuhan itu satu.Ingat itu Wen.”
            Sebuah taksi terlihat datang dari arah berlawanan dari kami,aku langsung memberhentikan taksi itu dan aku langsung masuk.Di taksi,air mataku semakin dalam.Cintaku tidak bisa pergi walaupun Leon meminta,apakah aku harus berusaha ikhlas demi yang terbaik?mungkin saja,aku mencoba rela,merelakan dia.Dia,satu nama yang tulus tumbuh di hatiku.
            Sesampainya di kost aku langsung ganti baju dan menulis sesuatu di sepucuk kertas.Ku tuliskan sebuah pesan singkat.Aku memutuskan untuk kembali ke Singapura bersama orang tuaku dan aku ingin melupakan Leon.
            Dear Leon…
Tuhan menciptakan manusia laki-laki tanpa tulang rusuk,agar manusia perempuan bisa melengkapi tulang rusuk yang hilang itu.
Tuhan menciptakan kita berbeda agar kita saling melengkapi.Tapi yang kali ini,Tuhan menciptakan kita berbeda bukan untuk bersatu.
Kamu benar.Tuhan kita memang satu,tapi keyakinan kita berbeda.Aku tidak tahu kenapa Tuhan mengenalkan mu, jika hanya membuat kita tidak pernah bersatu.Mungkin inilah pelajaran hidup yang diberikan Tuhan kepadaku,kepada kita.
Aku berdoa dengan tulus,agar kamu mendapatkan apa yang sama denganmu.Dan aku berharap semua itu juga terjadi dalam hidupku.
Cinta memang anugerah,tapi untuk kita,perpisahanlah yang merupakan anugerah…
            Aku melipat rapi surat kecil itu.Aku beri amplop putih.Putih adalah warna favorit Leon.Hari yang ditunggupun tiba,kini saatnya pesawat akan membawaku terbang menemui kehidupan yang baru ,tanpa Leon.Pagi itu,Leon datang kepadaku,datang sebagai orang lain.Leon dan aku berpelukan erat sekali.Ini pelukan terakhir kita.Sebelum pergi,aku menitipkan sebuah surat yang ku beri hadiah kado salib,sebagai tanda kalau selama ini aku menghargai dia karena Leon juga menghargaiku.Singkat cerita,saat bulan puasa datang,Leon memberiku sebuah Al-Qu’ran sebagai pedoman agar di bulan romadhon aku dapat berkah pahala.
            Kini kami berpisah.Semoga kami dapat bahagia dengan cinta yang lain yang lebih pantas lagi.”Selamat tinggal Leon.”aku berkata dengan segenap air mataku lagi.Leon hanya tersenyum manis padaku.Itu..itu adalah senyuman terakhir orang itu.
**
            Leon membuka surat dari Wenda di mobilnya.Ia membaca kata demi kata dari Wenda dengan rintihan air mata.Ia memang merasa berat melepas Wenda,tapi mau bagaimana lagi.Tidak ada lagi alasan untuk mereka bersatu lagi.

-AP-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar