LOVE,SAD,SECRET ADMIRE,YOU

Rabu, 15 Mei 2013

London in my sweet memory


            Selamat pagi London! Aku siap untuk tinggal disini sementara waktu untuk mengikuti lomba melukis. Apa yang menjadi mimpiku seakan-akan menjadi nyata disini. Ini semua juga berkat sahabatku, Rangga. Ayahnya adalah orang London. Ia menetap disini sejak duduk di bangku SMA. Kami berpisah sejak saat itu, tapi kami tetap menjaga persahabatan jarak jauh dengan berhubungan lewat jejaring sosial.
            Pagi ini, aku tiba di London. Sungguh kota yang kudambakan selama ini. Masih saja terasa mimpi bagiku bisa datang kesini. Sambil menunggu Rangga yang berjanji menjemputku, aku berjalan-jalan dan menemukan sebuah taman yang indah. Aku duduk sambil memperhatikan bule-bule kece yang melewati jalan itu. Mungkin mereka cuek terhadap keberadaanku disini, tetapi tak apalah, nggak masalah. Aku mengeluarkan buku gambar dan pensil kesayanganku untuk melukiskan indahnya London pagi ini. Rasanya taman ini adalah tempat yang sangat nyaman untuk melukiskan ideku. Saat aku asyik dengan duniaku, ada bunyi telepon dari Rangga. Ia marah-marah padaku karena aku tidak ada dibandara saat ia datang menjemput. Aku yang tidak tau apa nama tempat ini, langsung saja aku  bergegas mengemasi barang-barangku dan berlari menuju airpot sebelum Rangga meninggalkanku pergi.
            Saat aku terburu-buru, aku di hampir saja ditabrak bule. Iyasih tampangnya bule, tapi ngomongnya bahasa Indonesia. Sempat kaget kenapa dia bisa berbicara bahasa Indonesia. Pria itu marah marah kepadaku. Ngatain aku nggak punya mata atau apalah. Ku kira London akan berbeda, ternyata sama saja. Ada orang yang menjengkelkan seperti itu di sini.
“Eh, Lo sadar dong, gue tadi jalan. Tapi lo main tabrak aja. Lo kira ini Indonesia atau sinetron Indonesia gitu? Norak tau nggak sih.”Emosiku memuncak pada pria itu. Lalu pria itu hanya melihatku dan pergi begitu saja. Gila tuh orang, ya sudahalah semoga ini kesialan pertama dan terakhirku di London.
Aku terus berlari kembali ke airport. Ah sial!!! Lupa lagi sama jalannya. Maklumlah ini pertama kalinya aku pergi ke London. Sementara itu ponselku terus berdering, rupanya Rangga terus membuat handphone ku berbunyi. Dengan keadaan  yang seperti ini, aku tidak menggubris sama sekali telepon dari Rangga. Aku terus berlari dan berlari mencari arah jalan kembali ke bandara. Saat berlari, aku melihat orang yang mirip dengan orang Indonesia. Aku memutuskan untuk bertanya kepadanya. Aku memilih orang Indonesia karena bahasa Inggrisku tidak terlalu bagus, jadi aku malu jika harus berbicara bahasa Inggris dengan bule-bule disini, nanti malah dikira aku stress aja, karena bahasa inggrisku belepotan.
“Selamat Pagi, saya tau anda orang Indonesia. Oh, iya saya dari Indonesia sama seperti anda. Saya Kinanti, panggil saja saya Kinan. Saya mau tanya arah jalan ke bandara mana ya?”Entah apa dibenakku, aku bisa berbicara panjang lebar seperti tadi kepada orang yang sama sekali enggak pernah aku kenal sebelumnya. Sudah berbicara sepanjang ini, orang itu hanya menatapku aneh. Ya ampun, terus tadi aku bicara apa? mungkin orang ini tidak mendengar. Aku yakin dia adalah orang Indonesia, karena ketika kuperhatikan mulai dari atas sampai bawah lalu kembali lagi dari bawah ke atas, ciri-cirinya sangat mirip dengan orang Indonesia. Orang itu tetap diam seribu bahasa sambil menatapku aneh. Tapi tiba tiba ia membuka mulutnya dan berbicara
“Sorry, miss. What did you say? I don’t know what you mean.” Orang itu menjawab pertanyaanku. Sontak aku kaget, orang itu bicara bahasa Inggris, mampus aku. Langsung saja aku tepuk jidat. Dimana bandaranyaa gue keburu buru, tapi yakinlah gue kalau dia gak mungkin jawab pertanyaan yang tadi. Dengan berpikir keras aku langsung menyusun kata bahasa Inggris untuk bertanya dimana bandara.”Hay,Sir! do you know where is the airport?”Entah itu tadi benar atau salah aku nggak tau, yang jelas ada kata where dan airport mugkin orang ini tau. Tapi tetap pria berkamera SLR ini diam dan menatapku aneh.
**
            Menunggu cukup lama membuat Rangga memutuskan untuk pergi meninggalkan bandara dan mencari Kinan.”Kinan, kemana sih loe?”Di benaknya hanya ada kalimat itu. Sambil mengitari jalan dengan mobil sportnya ia melihat ke kanan dan ke kiri mencari cari orang yang bernama Kinan. Akhirnya Rangga menemukan seorang gadis dengan tas ransel biru muda berdiri di depan Dimas. Dimas adalah sahabat Rangga yang memang terlihat seperti orang Indonesia (karena dia memang ada keturunan Indonesia), tapi ia tidak bisa berbahasa Indonesia karena ia besar di Inggris walaupun ia lahir di Indonesia. Rangga langsung menghentikan mobilnya dan berlari menuju Dimas dan Kinan.
            “Hey,Kinan! Aku sudah menunggumu di bandara. Kenapa kamu malah kelayapan nggak jelas gini sih. Aku khawatir banget sama keadaan kamu. Apalagi ini London, bukan negara kamu.”Dengan tergesa gesa Rangga mengatakannya padaku. Aku kaget sih mengapa Rangga tiba tiba datang. Mungkin saja dia menungguku lama dan memutuskan untuk mencariku, karena dari SMP dia sealalu menghawatirkan keadaanku jika aku mulai berlaga aneh.Setelah berkata seperti itu tadi kepadaku,entah mengapa dia langsung melihat pria di depanku ini dan berjabat tangan dengannya.Rangga sebut namanya itu Dimas.Oh,namanya Dimas,tuhkan orang Indonesia tapi kenapa dia susah berbicara bahasa Indonesia.Tidak lama setelah Rangga menjelaskan semuanya dengan bahasa Inggris aku hanya mengerti beberapa saja artinya.Yang jelas Rangga bilang kalau aku sahabatnya yang tersesat.Mungkin ada sedikit percakapan sih tapi aku gatau artinya juga.
            Kemudian aku digiring Rangga menuju mobilnya.Di perjalanan pulang ,Rangga terus mengoceh dan mengoceh.Sama seperti saat SMP dulu,ia selalu khawatir kepadaku.Entah mengapa dia seperti itu,mugkin saja karena aku sahabat terindahnya.Rangga berhenti mengoceh,mungkin karena ia sudah lelah berbicara kepadaku.Lalu aku sedikit ingin mecairkan suasana dengan bertanya tentang London dan kehidupannya selama ini.Oh iya Dimas juga.Terbesit sedikit tentang Dimas yang menurutku aneh saja.Namanya Indonesia tapi gakbisa berbicara bahasa Indonesia.Pawakannya pun juga Indonesia.Rangga menjelaskan semuanya.Ternyata Dimas hanya lahir saja di Indonesia ,selanjutnya besar di Inggris,pantes saja sih.Betapa malunya aku saat itu,berbicara lebar malah tidak dianggap.Aku teringat dengan oleh -oleh untuk Rangga,gelang,gelang yang ku buat sebelum aku berangkat.Itu untuk Rangga ,ya walaupun kecil tapi aku yakin itu berkesan untuk Rangga.Aku ingat aku taruh oleh - oleh itu di koper miniku.Koper?What?dimana koperku?Hilang?Aku teringat tertinggal di taman tadi.Aku langsung menyuruh Rangga berbalik arah ke taman.Tapi anehnya ia tidak marah sedikit pun kepadaku.Akhirnya aku kembali dan mengambil koperku.Untung saja koperku ada.Sesampainya di apartement Rangga ,ada mama Rangga,Tante Indah.Aku kangen dengan tante Indah.Ternyata tante Indah sudah menyiapkan nasih goring jawa favoritku.Tidak menyangka bahwa tante Indah masih mengingat apa yang aku suka.
            Setelah makan,aku langsung diantar di kamarku yang akan aku tempati selama 1 minggu ke depan.Bersandarlah aku di kasur yang nyaman.Ku ambil handphoneku dan langsung aku menelepon Ibu di Indonesia.ya syukurlah Ibu tidak terlalu menghawatirkan keadaanku karena aku sudah sampai dengan selamat di London.Aku pasang headset dan ku nyalakan ipodku.Aku duduk di bawah kasur dan melukiskan sesuatu.Ya inilah aku,selalu saja melukis yang aneh aneh di saat aku tidak memiliki pekerjaan apapun.Terngiang wajah Dimas dan tak sadar aku teringat padanya ,entah mengapa tanganku terus melukiskan wajahnya.Seakan jelas sekali wajah orang yang menjengkelkan itu.Ini wajah Dimas,mengapa aku bisa melukiskan orang yang baru pertama kali aku lihat,aku tidak tau mengapa ini semuanya bisa ku lakukan.Tapi kubiarkan berlalu saja,karena mungkin naluri melukisku tinggi jadinya aku mampu melukiskan hal yang seperti itu.
            Lomba melukis masih 3 hari lagi.Aku ingin sekali mencari objek untuk melukis nantinya.Ya aku meminta Rangga mengajakku keluar dan menikmati London.Pagi ini ,aku harus mengikuti Rangga kuliah terlebih dahulu.Untung saja di kampus Rangga bebas orang luar masuk.Aku langsung mencari objek yaitu di taman kampus Rangga.Aku duduk di bawah pohon dan melukis apa yang aku lihat.Ada objek bagus.Ada seorang pria dengan kamera SLR nya sedang memotret sesuatu.Aku mencoba melukisnya.Tidak sengaja,orang itu menyadari keberadaanku di sini.Dia langsung datang menghampiriku.Dimas ternyata!Mampus saja ,aku tidak bisa berbicara bahasa Inggris sebelumnya.
            “Hay,kamu yang waktu itu kan?”Dimas!Dimas mengatakan hal seperti itu kepadaku.Aneh?! katanya ia tidak bisa berbicara bahasa Inggris,tapi malah dia berkata seperti itu padaku.Dimas menjelaskan kenapa dia waktu itu tidak berbicara bahasa Indonesia,itu karena dia merasa bahwa aku unik dan enak untuk di kerjain.Dimas juga bilang kalau ekspresiku saat itu aneh dan lucu.Dia juga meminta Rangga bekerja sama dengannya.Wah!Lucu juga nih,belum belum di London udah dikerjain orang aneh gini,tapi aku gak marah kok karena dia orangnya lucu dan juga enak untuk berteman .Akhirnya aku memutuskan untuk berteman dengannya.Sebagai syarat minta maaf nya dia mengajakku keliling London ,Ha?! Aku suka hal ini,ini menarik.Rangga saja sahabatku sejak kecil belum pernah menawariku.Ini orang baru malah menawariku.Kerenlah!
            Aku dan Dimas berjalan jalan sepanjang jalan di London.Dia terus asyik dengan kameranya dan memotret setiap objek yang ia anggap menarik.Anehnya ada cewek di dekatnya malah gak dianggap sedikitpun.Untuk mencairkan suasana,aku mengajaknya ngobrol.Aku menanyakan kenapa dia menyukai photografi.Pertanyaan yang menurutku klise sih,aneh untukku tanyakan,tapi mau bagaimana lagi,daripada berjalan berdua seperti sendirian.Eh,malah Dimas ngejelasin semuanya.Cukup keren sih pernyataannya, dia bilang”Semuanya itu adalah memori,ketika aku nanti pergi orang dapat mengenangku dari semua ini.”Di Logika benar juga pernyataan Dimas.Lalu ku tanya kenapa dia tidak kuliah,ternyata dia membolos,karena menurutnya  kuliah itu aneh.Ya taulah orang ini mungkin konslet sama kayak aku,tapi aku suka orang orang konslet karena bisa menyamakan dunianya denganku.
            Kami berhenti di sebuah kafe ,Dimas berjanji untuk mentratriku.Asyik sih,soalnya uangku di London pas-pas an.Disini aku dipesankan ice cream special oleh Dimas,entah mengapa kesanku padanya sedikit berbeda.Ku rasa ada yang aneh dan tidak biasa saat aku bersamanya.Nyaman sekali.Di kafe itu kami bercanda dan menceritakan dunia kami masing-masing.Seperti yang ku duga sebelumnya,kami memang mempunyai dunia yang sama - sama konslet.Aneh dan unik.Ditengah – tengah kami bercanda ,Dimas mengambil fotoku saat aku makan ice cream.Saat aku tersadar aku di foto ,aku langsung memberikan ekspresi terbaikku.Nah aku langsung berbalas memberikan lukisan yang ku kulis waktu itu tentang wajahnya.Ia tidak mengira bahwa aku akan melukis wajahnya seindah ini.Unik sih katanya,tapi dia menyukainya.Katanya aku berbakat menulis dan pasti aku akan menang nantinya,ya aku hanya bisa bilang amin saja.
            “Waiter,here please!”Tiba-tiba saja Dimas memanggil seorang pelayan pria.Ternyata Dimas memintanya untuk memotret kita berdua.Wah,waiter itu bilang kalau kita itu serasi.Bilang apa?Serasi,kita bukan pacaran woy,andai saja aku bisa bilang dengan bahasa Inggris seperti itu.Dimas bilang kalau hasilnya bagus dan senyumanku pas.Keren sekali ada yang bilang senyumanku pas.Cukup lama kami mengobrol disini.Aku lupa akan Rangga,pasti dia cemas.Tetapi syukurlah Dimas telah memberi tahu Rangga dan Rangga setuju.
            Hari demi hari sebelum lomba aku habiskan bersama Dimas untuk memotret dan kadang aku meminta satu filenya untuk aku lukis.Sebenarnya ini seperti cinta fiksi yang pernah ku baca antara pelukis dan photographer yang berakhir bahagia.Tapi,apakah ini akan menjadi non fiksi untukku dan Dimas,yang baru saja bertemu?! This is the day! hari ini adalah hari dimana lomba dilaksanakan.Objekku dalam lomba melukis ini adalah fotoku bersama dimas di kafe itu.Memang aneh kenapa aku melukisnya,menurutku itu klise dan tidak menunjukkan keindahan,tapi  tangan ku seakan tidak mau melukis yang lain.Di luar ada Rangga dan Dimas yang menemaniku .Saat selesai lomba aku hanya menemukan Dimas saja,ternyata Rangga pergi karena ada urusan lain.
            Pengumumannya akan diumumkan besok lusa.Aku tidak sabar memang ,tapi mencoba untuk bersabar itu pilihan sepertinya.Seperti biasa Dimas mengajakku ke sebuah tempat,tapi kali ini berbeda ,sepertinya dia mengajak ku ke sebuah tempat yang romantis.Deg-deg an juga sih sebenarnya aku,tapi aku anggap santai saja.Ternyata ia membawaku pergi ke taman yang dulu pertama kali aku kunjungi saat tiba di London.Ternyata Dimas telah mengetauhiku dan menyukaiku saat pertama kali bertemu.Aneh memang,baru saja mengenal tapi Dimas juga sudah menyukaiku,apakah aku juga?Mungkin iya,karena hatiku berbeda untuknya.Di tempat ini kami menyatakan rasa masing-masing.Kami tidak berpikir ini adalah perasaan sesaat ataukah bukan.Yang jelas kami jalani semuanya bersama-sama dan mengalir apa adanya.Tidak ada pikiran yang terbesit bahwa aku akan pulang ke Indonesia dan meninggalkan dia.Aku merasa nyaman di sini sehingga aku memutuskan untuk cuti kuliah dan menetap di London tanpa aku tau sampai kapan.
            Hari ini adalah pengumuman lomba melukis itu.Indonesia menjadi juara pertama dengan lukisanku yang berjudul sweet couple.Aku kira itu hanya untuk di lukisan,tapi kenyataannya aku dan Dimas menjadi sweet couple yang nyata.Rangga sahabatku juga sudah tau tentang hubunganku dan Dimas,Rangga setuju sekali karena ia mengenal Dimas dengan seutuhnya.Malamnya aku dan Dimas berkencan mengitari London.Ia mengajakku ke Grandwich untuk melihat jam dunia atau BIG BANG.Disana Dimas berkata “Jika suatu hari nanti aku dan kamu berpisah ingatlah kita di sini,karena ini adalah jam dunia yang paling tepat seperti kamu yang tepat hadir di hidupku.Memberi warna baru disini dan memberikanku semangat.”Omongannya ini sangat berarti buatku dan entah mengapa aku yakin aku akan selamanya bersama Dimas.
            Kita sudah pacaran seminggu dan semuanya berjalan apa adanya seperti air mengalir.Setiap hari Dimas menjemputku untuk sekedar makan ,hunting foto ataupun jalan-jalan jalan.Tapi hari ini berbeda,Dimas tidak datang padaku.Ya mungkin Dimas sedang sibuk dengan kegiatannya.Aku hanya setia menunggunya datang atau hanya sekedar meneleponku.Sudah 14 hari berlalu,Dimas tak kunjung datang.Aku bertanya kepada Rangga kenapa Dimas tidak datang selama ini.Tanpa menjawab pertanyaanku,Rangga mengajakku ke sebuah tempat.Ternyata aku di bawa ke sebuah pemakaman dan di batu nisannya tertulis nama Dimas Abraham John.Aku kaget apakah ini mimpi ? dada ku terasa sesak dan membuat air mataku jatuh.Rangga menceritakan semuanya.Ternyata selama ini Dimas menderita penyakit jantung yang sudah kronis dan saat operasi ia gagal untuk bertahan hidup. Ia menyembunyikannya dari ku dan menyuruh Rangga untuk tidak memberi tau Kinan karena Dimas telah jatuh cinta pada ku.Dimas menitipkan memori kameranya pada Rangga untuk di berikan padaku.Dimas ngin semua yang pernah dia ambil gambarnya ku lukiskan dalam kanvasku.
            Ini terlihat seperti mimpi buruk bagiku,sesak dan tak kuat untukku menerima semuanya.Kami baru saja berpacaran ,tapi berakhir begini saja,ini serasa sakit sekali.Mengapa juga Dimas sebelumnya tidak bercerita kepadaku semuanya.Dimas adalah cinta pertama yang kurasa mudah untuk digapai,ternyata dia pergi tanpa akan kembali lagi.Kesedihanku semakin larut di London.Aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan tetap melukiskan hasil foto Dimas selama ia hidup.London! ini adalah hari terakhirku disini,mungkin aku akan kembali untuk mendoakan cinta pertamaku nantinya.Terimakasih telah memberiku arti cinta walau hanya sesaat,Dimas kau akan selalu ku kenang dan jika memang kita berjodoh sampai bertemu nantinya di keabadian.Pesawatku terbang dan kutinggalkan lukisanku bersama Dimas di batu nisannya.Semoga di surga Dimas akan tenang dan tetap mengingat ku,Kinan cinta sesaatnya di LondonJ

-AP-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar