LOVE,SAD,SECRET ADMIRE,YOU

Rabu, 15 Mei 2013

Sayang bukan cinta…


                Pertemuan terakhir Zena dengan Reno saat itu di Bandung.Mereka berdua saat itu sedang sidang skirpsi.Mereka adalah pasangan yang bisa dibilang tidak ada status jelas.Di bilang pacaran ,belum ada yang menyatakan cinta tapi rasa sayang itu ada.Hubungan yang bisa dibilang tanpa status ini sudah berjalan lama.Mereka saling kenal dan saling berhubungan semenjak semester terakhir.
            Kini kita harus berpisah.Mungkin kata itu adalah kata yang tepat diucapkan oleh Zena kepada Reno dan sebaliknya.Kini Zena harus ke rumah ayahnya di Amsterdam dan Reno harus mengurus bisnis batik keluarga yang cukup maju di Jogja.Mungkin mereka bisa bertemu lagi nanti disaat reuni,tapi entah itu kapan.”Sampai ketemu nanti.”ucap Zena pelan saat mereka berada di bandara.”Aku akan merindukanmu.I love you.”jawab Reno lembut.”Cintamu?”tanya Zena lirih.”Belum.Bukan hari ini.”jawab Reno,raut air muka Zena pun berubah.Kata yang diharapkan selama ini belum juga.Entah sampai kapan mimpinya akan menjadi nyata.
            Selamat tinggal Indonesia dan selamat datang Amsterdam.Disini Zena akan memulai segalanya.Kehidupan baru.Membantu ayahnya seorang wiraswasta yang menjual pernak-pernik khas Indonesia dan Belanda.Reno pun di Jogja juga melakukan hal yang sama.Perpisahan mereka seakan adalah hal merubah segalanya dan mungkin hubungan mereka.
            Reno disuruh ibunya untuk pergi ke Semarang,bertemu designer muda.Tia.Tia adalah designer lokal khusus batik.Karyanya sudah lumayan diminati warga Jawa Tengah.Reno sebenarnya tidak ingin,tapi apa daya demi keluarganya.Mobil itu melaju kencang menuju ke Semarang.Sesamapainya ,rasa lelah pun menemani.Reno seakan tidak ingin berfikir jernih ,tapi ingin tidur sementara.”Hay!.”Seorang gadis cantik khas wanita Indonesia tergambar di raut muka Tia.Orangnya terlihat lembut dan juga baik.”Oh iya saya sendiri.Saya disuruh ibu saya kesini.”jawab Reno dan rasa lelah itupun hilang.”Saya sudah tahu kok.”jawab gadis itu cuek lalu melanjutkan,”Saya Tia.Anda?”Reno terdiam senjenak dan menggapai tangan itu dengan menjawab.”Reno Aditya.”Pertemuan pertama mereka ini bukanlah pertemuan yang canggung dan juga kaku seperti yang dibayangkan Reno sebelumnya.Mereka berdua terlihat akrab seperti teman lama.
            “Mau saya traktir makan?”Reno tiba-tiba bertanya kepada Tia setelah melihat jam dan waktu menunjukkan waktu makan siang.
            “Dimana?”jawab Tia.
            “Di kedai makanan di ujung jalan.Tidak jauh,tadi aku mengetahuinya.”
            “Baiklah.”Dengan sigap keduanya berdiri dan langsung meluncur ke kedai tersebut.Di kedai makanan itu dijual macam-macam makanan khas dari Indonesia.Dan tentu saja naluri jawa mereka berdua keluar dan mereka sama-sama memesan Gudeg.
            “Kok bisa samaan sih?”Tia bertanya.
            “Iyanih,suka makanan ini.Dulu kuliah jarang dapet kalau gak pas pulang.Maklumlah Bandung.”
            “Oh kuliah disana?”
            “Iya.Kenapa?”jawab Reno dengan pertanyaan dari Tia.
            “Aku punya temen,Temen SMA sih.Kita deket banget.Bisa dibilang sahabat tapi bukan juga.Gak kenal jauh sih.”jelas Tia
            “Oh  ya?Siapa?Anak jurusan apa?”
            “Ekonomi bisnis.”jawab Tia.Ekonomi bisnis?Bukannya itu adalah jurusannya saat kuliah.Dalam hati Reno terus penasaran siapakah orang itu.
            “Jurusan itu jurusan aku,Ti.Siapa namanya?”tanya Reno dengan penuh penasaran.
            “Namanya….Zena Aulia.”Mata Reno lalu terbelalak lurus ke arah Tia.Zena ,orang yang ia sayang selama ini,namun hatinya belum bisa berkata untuknya.
            “Aku dan dia…”gumam lirih Reno.
            “Kekasihmu?atau kau galau karenanya?Ceritakan saja,kita sudah saling mengenal beberapa jam yang lalu.”canda kecil dari Tia.
            “Aku dan dia.Rumit.Aku sayang padanya tapi kenapa aku tidak bisa menyatakan rasa ke dia.Sudah setahun dan kini kepergiaanya ke Amsterdam ngebuat kalau aku bodoh.Jadi keputusanku adalah menunggunya pulang dan menyatakan rasa itu.”jelas Reno.
            “Oh begitu ya.Dia sekarang di Belanda.Hmm…kalau masalahmu itu ada di hati.”Tia menunjuk ke arah dada Reno.”Kamu bilang cuma sayang sama dia.Pantesan saja kamu gak ada nyali.Sayang itu artinya banyak,sebagi temen,sebagai sahabat,kakak,adik atau yang lain.Tapi kalau cinta,itu cuma siji.Sing ono nang atimu.Jadi kalau kamu belum cinta,wajar saja kamu gak nyatain.Pacaran kalau cuma sayang susah,harus ada cintanya.”jelas Tia.
            “Tapi dia berharap sama aku lebih.Aku di kasih info ini dari temennya.Dia cuma bersabar.Karena wanita kodratnya gak boleh nyatain cinta.”tambah Reno tegas.
            “Iyasih,salah kamu juga semua ini.Seharusnya kamu gak berlebihan kalau masih sayang bukan cinta.Kamu seharusnya putusin semuanya dan biarkan dia bahagia bukan dengan rasa sayang kamu.Mungkin cinta orang lain.”
            “Tapi aku gak rela.”
            “Relain,kalau nyakitin kamu bisa lebih gak rela?”
            Tertegun.Reno kali ini seperti di skak mati oleh seluruh omongan Tia.Ia hanya bisa diam tanpa kata.Kosa katanya seakan habis dan juga tatapannya kosong.Kali ini otaknya bergerak untuk berfikir lebih dalam.”Baiklah.Akan aku lakukan tapi enggak hari ini.”
            “Yaiyalah.Bukan hari ini.Semuanya harus matang,kalau mentah ya sepo.”canda Tia.
            Obrolan mereka pun berakhir dan pelayan kedai itu datang dengan membawa pesanan makan siang mereka.Hari sudah siang dan kini saatnya Reno harus kembali ke Jogja sebelum dirinya mengantuk.Reno melambaikan tangan ke arah Tia dan langsung pergi begitu saja.Omongan Tia selama di kedai selalu membayanginya.Dan kata yang paling menusuk adalah :” Seharusnya kamu gak berlebihan kalau masih sayang bukan cinta.”Kalimat itu memang sederhana,tetapi rasanya sangat menusuk hatinya.
            Setelah berlalu cukup lama,obrolan itu kembali ada di pikiran Reno.Seperti hantu ,kata-kata itu selalu membuat hatinya gelisah.Hatinya kalut dan tidak tahu harus diapakan lagi rasa sayangnya kepada Zena.Apakah ia harus membiarkan hatinya sampai mencintai Zena,tapi sampai kapan?Apakah dia harus mengatakan dan meninggalkan Zena?Apa dia tidak sakit hati?
            Setelah cukup lama merenungkan segalanya.Ia akhirnya menelepon Tia untuk menanyakan tentang tepat atau tidaknya keputusannya saat ini.
            “Hallo Tia?”
            “Hai,Ada apa?Kayaknya urusan kita udah fix.”suara ceria terdengar dari arah sana.Suara ceria dari seorang Tia.
            “Aku…”Reno terdiam sambil menghela nafas panjang dan melanjutkan omongannya.”Kamis depan aku ke Belanda.”
            “Mencari Zena,baguslah.Lakuin apa yang hati mu suruh bukan otakmu.``nada di arah berlawanan seketika membuat Reno menjadi nyaman dan yakin terhadap keputusan besarnya.Kamis itu pun datang,hari itu bagaikan mimpi buruk baginya.Ia harus melakukannya .Tidak ada alasan,sepertinya harus merelakan sekarang daripada Zena sakit nantinya.Reno berangkat dari Jakarta dan akan segera terbang ke Amsterdam.
            Jam demi jam ia lalui hanya di pesawat.Sebenarnya ia tidak begitu suka dengan semuaya.Tapi mau bagaimana lagi demi beban beton di tubunya,ia harus melakukan semuanya.Akhirnya,sampailah dia di Amsterdam.Baru pertama kali ini kakinya di injakkan di Amsterdam.Ia tidak tahu harus berbicara bagaimana dan berbuat apa.Reno langsung mencari tempat duduk dan langsung berfikir untuk melakukan sesuatu.
            “Apakah aku harus menelepon Zena?”gumamnya lirih.”Ya,benar.Ini harus,setidaknya dia bisa membantuku.Agar aku tidak tersesat di negeri ini.”
            Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Zena dan 2 kali dicoba akhirnya Zena menangkat teleponnya.
            “Goedemorgen?”suara dari arah sana memang tidak asing bagi Reno,tapi bahasa itu,ia sama sekali tidak mengenalinya.
            “Pagi.Kau tidak mengenaliku.”tanya Reno.
            “Anda siapa?Maaf telepon lama ku rusak dan nomornya tertinggal.”jawab Zena.
            “Reno,Zen.”
            “Oh,hai kamu!di Amster?dimana?Aku jemput ya.I miss you so.”
            “Saya di bandara.”jawab Reno.Kata “I miss you so.”membuatnya mati kutu dan tidak yakin untuk kesekian kali ,kalau keputusannya benar.Ia memutuskan untuk menunggu gadis itu datang dan mencari celah yang pas untuk mengatakan semuanya.Akhirnya yang ditunggu datang juga.Zena terlihat cantik ,lebih cantik dari saat kuliah.    
            “Hay.sudah lama.”
            “Lumayan Zen.Biarkan saja saya yang nyetir,saya kan pria.”lagi-lagi hati Zena berdebar dengan tindakan yang dilakukan oleh Reno.Setiap tindakan manis yang dilakukan Reno entah mengapa selalu membuat Zena  merasa terbang melayang.
            “Kita mau ke arah mana?Saya tidak tahu jalan sama sekali disini.”tanya Reno.
            “Gile lu.Udah berapa lama sih lu itu,maksud aku berubah kaku.”
            “Semenjak jadi pebisnis Zen.”
            Zena hanya membalas dengan tawa kecil.”Oke,pakai kata saya.Saya lihat kamu cuma beransel,tidak menginap atau?”
            “Saya hanya ingin berkata sesuatu ke kamu,Zen.Kita berhenti disebuah tempat.Saya minta kamu yang tunjukkan.”Zena hanya terdiam,omongan Reno itu serasa kejutan.Bagaimana tidak, hari ini adalah hari ulang tahunnya.Dan kedatangan pria itu di hari spesialnya membuat segalanya tampak indah.Hatinya berkata bahwa Reno pasti akan menyatakan semuanya.Romantis.Satu kata yang membuat Zena memberikan penilaian pada Reno.Zena mengajak Reno untuk pergi ke sebuah taman tempat favoritnya.Banyak pengunjung yang datang dan dari sekian banyak,yang berwajah asia hanya mereka berdua.
            “Kamu mau berkata apa Tuan?”tanya Zena.
            “Aku…akan berkata…maksudku mengatakan sesuatu.”gumam Reno lirih.Getirnya sangat jelas terlihat,ia tidak yakin kalau ini memang tepat,tapi ia harus membuatnya se-tepat mungkin.
            “Kita sudah kenal lama.Kita juga berhubungan lama,tapi aku merasa hanya begini saja.Aku sayang sama kamu,tapi aku sadar aku gak cinta sama kamu.Hari ini aku berani jujur dengan kamu.Sudah lama aku mencoba ingin mengatakan rasa ini ke kamu,tapi ternyata sayangku untuk kamu bukan cinta.Aku sadar sayang  itu hanyalah sebatas teman dekat.”Jelas Reno.
            “Tapi…aku cinta sama kamu,aku nunggu kamu sampai kamu cinta kok.Sampai kapanpun itu?”Zena menjawab dengan lelehan air mata yang tidak kuat ia pendam lagi.Hatinya seakan dilempari beton,terasa sesak dan menyakitkan.
            “Aku gabisa cinta sama kamu,tapi aku cuma bisa sayang.”tukas Reno.
            “Lalu selama ini apa?Setahun dan kata I love you di bandara?Palsu kah?”Zena mulai tidak tahan dengan keadaan saat itu.
            “Aku baru disadarkan dengan arti sayang dan cinta.Dan aku tahu,”I love you”memang merupakan aku cinta kamu,tapi ternyata yang saya ucapkan artinya berbeda,artinya saya sayang kamu.” Jelas Reno yang tidak tega melihat Zena menangis.
            “Oke,baiklah.Terimakasih Ren.Jadi selama ini semuanya jelas.Kamu menjadikan saya jemuran baju kamu dan saat saya kering,kamu tersadar baju itu sudah bukan untuk kamu dan kamu membuangnya.Terima kasih ini kado terbaik dan teristimewa buat saya.”Zena berusaha tegar diantara kata-kata yang dia ucapkan dalam tangis.
            “Kamu ulang tahun?”tanya Reno menyesal.
            “Iya saya…saya ulang tahun hari ini.Kamu sadar tidak kamu telah melukai saya,melukai hati dan perasaan saya.Saya berkorban demi kamu.Saya merenggangkan hubungan saya dengan Dion karena kamu,Ren.Tapi saya tahu cinta gak bisa dipaksa.”jelas Zena dengan airmatanya.
            “Glucklich Bornday.Selamat ulang tahun.Maafkan aku sekali lagi.”Reno langsung memeluk Zena hangat dan mencium kening Zena.Pelukan itu serasa hal yang paling bodoh yang ia lakukan,tapi ia tahu Zena akan jatuh dan rapuh tanpa pelukannya sebagai penopang.Mereka berpelukan seolah ini yang terakhir dan tidak mungkin bahkan tidak akan terjadi lagi selamanya.
            -Kadang sayang dan cinta terlihat sama,tapi definisi itu berubah saat kamu dihadapkan dengan kenyataan perasaan.-
-AP-
Siji sing ono nang ati : satu yang ada di hati
Sepo : tidak ada rasa
Goedemorgen : selamat pagi dalam bahasa Belanda
Glucklich Bornday : selamat ulang tahun dalam bahasa Jerman.
-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar