LOVE,SAD,SECRET ADMIRE,YOU

Sabtu, 18 Mei 2013

Terungkap tak terjadi



            Jeana mengagumi pria ini sejak lama.Pria ini membuat Jeana menjadi seseorang yang bahagia walaupun pria ini tidak tahu perasaan Jeana.Tangan Jeana tidak berani untuk melambaikan tangannya untuk sekedar menyapa pria ini.Pria ini adalah Benjamin atau keren dengan nama Ben.Ben adalah anak kelas sebelah.Saat MOS,Jeana hanya bisa melihatnya dari kejauhan dan lama-lama dia tahu semua tentang Ben.Kini sudah hampir setengah tahun Jeana mengagumi Ben.Tidak ada yang tahu memang,karena Jeana sangat pintar dalam menyembunyikan perasaanya.
            “Jeeeeaaaaa!”Sapa sahabatnya Rika.Rika ini adalah sahabatnya sejak SD.Orang tua mereka berdua bersahabat sangatlah lama,jadi otomatis Rika dan Jeana juga bersahabat dekat.
            “Ya,ada apa Rik?”jawab Jeana cuek,sambil membaca komik yang ia pinjam kemarin di perpustakaan sekolah.
            “Gue,dapat surat ini.”
            “Dari?”
            “Gue gak kenal.Mungkin di dalam nya nanti ada namanya.”
            “Cepetan baca!”utus Jeana kepada Rika,karena Jeana juga sudah mula penasaran dengan apa yang ada di dalam surat itu.
            Hay,Rika
            Aku anak sebelah.Aku pakai jaket biru tua.Lihatlah aku.
            Aku mau kenalan sama kamu,karena aku mengagumi kamu
            Disurat itu hanya tersusun beberapa tulisan ala cowok yang berantakan.Jeana dan Rika sama-sama bingung.Surat itu menurut mereka tidak menunjukkan hal yang spesifik.Karena pria dalam surat itu hanya menyebut ia memakai jaket bir tua.
            “Jaket biru tua,seabrek di sekolah ini.”sahut Jeana.
            “Iyasih,tapi gue yakin ketemu!Dia kan niatnya baik,pasti punya persiapan.”Rika mencoba untuk menenangkan dirinya.
            “Tapi kenyataanna bukan itu?”
“Gue nyerah Je.Pulang sekolah kita beraksi.”
“Baiklah.”
Saat yang ditunggu pun akhirnya tiba juga.Jeana dan Rika duduk di kursi depan kelas mereka sambil melihat-lihat murid yang memakai jaket.
“Itu kali.”tunjuk Jeana asal.   
“Abiyu itu,pacarnya kak Hera.Gak ah.”
“Siapa tahu gua iseng,Rik.”
“Ah,mungkin itu?”tunjuk Jeana ke arah seorang pria yang hanya terlihat punggungnya saja.Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya,pria itu tersadar jika telunjuk Jeana diarahkan ke dirinya.Pria itu ternyata Ben.
“Gila!Ben,idola kakak kelas waktu MOS dulu,Je?”Rika terlihat sumringah.Jeana hanya bisa terdiam dan terpaku.Orang itu adalah Ben,orang yang selama ini ia kagumi dan mungkin rasa sukanya tumbuh di situ.
“Oh dia.Biasa ajasih.”Jeana hanya mencoba untuk cuek dan menyembunyikan rasa sakitnya.
“Gua panggil ya.”Rika menjawab dan setelah itu berdiri dan melambaikan tangannya ke arah Ben.”Benjami,Hay!”
Ben pun mengarah ke arah Rika berdiri dan berkata”Sudah kau terima?”Jeana hanya terdiam.Batinnya berkata ini semuanya mimpi,tapi apa daya semuanya beneran terjadi.Ben orang yang selama ini ia suka,ternyata menyukai sahabatnya sendiri.
“Ternyata benar itu kamu Ben.”
“Makasih Rik,udah ngerti gua.Makan siang bareng yuk.”
“Bentar aku tanyain sahabatk dulu.Soalnya kita mau pulang bareng sih.”
“Silahkan.”
Rika bertanya kepada Jeana.Jeana hanya bisa memberi ijin sementara hatinya tersayat.Rika langsung gembira sekali saat Jeana mau pulang sendiri tanpanya.Rika dan Ben pun berlalu dari tempat itu dan tinggalah Jeana dalam keheningan.Ketika dua orang itu menjauh dan bayangan mereka menghilang dari tatapan Jeana.Air mata Jeana tidak bisa dilepaskan,semuanya tampak seperti badai yang datang di siang hari.Jeana tidak berharap bahwa Ben dan Rika bersatu ,tapi itulah yang akan terjadi nantinya.Di keheningan sore,Jeana terpaku dalam sedihnya.
**
“Wah,kok bisa sih kamu ngirim surat?masih jaman.”canda Rika.
“Masih lah,kan aku gitu.”
“Lalu tujuan itu apa maskudnya?”
“Kenala doang sih.Gaboleh Rik?”
“Boleh aja Ben.Cuma caranya aneh.”tawa mereka bersuara sore itu.Mereka tampak kelihatan akrab sekali.Canda mereka membuat suasana sore itu berbeda bagi Rika.Yang biasanya sore hari waktunya Rika tidur dan bermain atau membaca novel,tapi kini sorenya memiliki warna.Dan warna itu juga mewarnai hari-hari Rika berikutnya.Hubungan mereka terus berlanjut dan berlanjut dan semakin serius.Sekarang hari demi hari Jeana terasa kurang nyaman akibat hubungan Rika dan juga Ben.
“Jeaaa!”teriak Rika kepada Jeana.
“Apa?”jawab Jeana enggan.Karena Jeana yakin sahabatnya itu akan menceritakan segalanya tentang Ben.
“Ben udah nembak gue.Pacaran deh kita.Ayo ke kantin ,gua kasih PJ.”
“Gak,gua udah kenyang.”jawab Jeana cuek.
“Je,lo kenapa?Gua bingung,gua kasih enak malah gamau.”
“Gua kenyang Rik.”
“Yaudah Je,ntar aja kalau lo mau deh.”
Perasaan Jeana sangatlah tidak nyaman dengan ungkapan Rika tadi.Rasanya,hatinya tersayat dan sakit.Hal yang tidak sama sekali Jeana inginkan ternyata terjadi juga hari itu.Ben dan Rika sudah jadian.Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan ,apakah harus mengubur perasaannya atau bagaimanapun ia tidak bisa memendam semuanya.
Hal yang paling di benci Jeana adalah saat pulang sekolah.Ia harus melihat Rika dan Ben bersama dan kali ini harus melihat mereka berdua sebagai sepasang kekasih.
“Sayang,tunggu disini dulu ya.”
“Kenapa kok gitu,Rik?”
“Aku mau ke perpus sebentar,balikin novel.Deadline loh.”
“Oh,iya sayang.”Obrolan itu memang sangat jauh di belakang Jeana.Tapi Jeana mampu mendengarkan percakapan itu.Kata sayang yang keluar dari mulut mereka masing-masing membuat Jeana semakin sesak memikirkan semua ini.Tidak lama ada suara yang memanggilnya
“Jeana!”
Saat Jeana memalingkan tubuh,ternyata pria itu adalah Ben.Ben memanggilnya merupakan hal yang paling mendebarkan bagi Jeana.Pria itu,selama ini dia hanya bisa melihatnya dari kejauhan tetapi kali ini Ben terasa begitu dekat dengannya.
“Ya?Kenapa Ben?”jawab Jeana dengan nada sedang menyembunyikan rasa gugupnya.
“Tunggu disini dulu yuk.Nunggu Rika nih.”Mereka berdua akhirnya duduk di kursi taman yang tidak jauh dari perpus.
“Oh,Rika balikin buku ya?”Jeana bertanya canggung.
“Iya,mungkin dia pinjem lagi.”
“Oh?Btw,selamat ya,akhirnya setelah 2 bulan deket jadian juga.”Jeana berucap ,seolah-olah dia senang dengan hal ini.
“Makasih,eh kata Rika lo dikasih PJ malah gamau,kok gitu?”
“Gua gak berhak nerima apa yang buat gue sakit.”Jeana langsung menutup mulutnya,ia merasa bodoh kenapa bisa berkata dengan bodoh seperti itu.
“Sakit?”Air muka bingung langsung ditunjukkan oleh Ben.Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Jeana padanya.
“Lupakan”Jeana langsung menyaut agar segalanya tidak semakin rumit.
“Ah,jangan gitu aja minta gua ngelupain Je.Jelasin!”Ben tetap memaksa Jeana untuk mengakui semuanya.Mulutnya seakan terdiam,Jeana ingin sekali menyatakan rasanya kepada Ben,ia telah kehilangan kendali saat berhadapan dengan Ben.”Aku…ini tidak bisa diucapkan Ben,cinta itu kadang membisu dan tak terungkap nyata.”Jeana menjelaskan pelan.
“Apa?!Lo suka sama gua?”tanya Ben serius.
“Gua,jujur ajadeh.Gua gak kuat dengan semuanya.Gua suka sama lo dulu.Ini gila memang,tapi gua sangat gak pengen ada yang tau,tapi mungkin kali ini orangnya sendiri harus tau.”
“Sejak kapan Je?”
“Orientasi Ben.Gua udah suka sama lo.Tapi cinta gua ke lo itu membisu untuk waktu yang gak pernah gua tau,tapi kali ini semuanya terucap tanpa perlu ada pengungkapan dari lo,Ben.”jelas Jeana lebih.
“Kalau lo cerita,gua gabakal sama Rika.”
“Jangan,lo berdua cocok kok.Minggu depan gua pindah ke Belanda.Tugas orang tua gua,Mungkin takdir gua harus ngelupain rasa suka gua ke lo dan rasa sesak mungkin cemburu gua ke lo sama Rika.Gue mohon jaga Rika,dia sahabat gua paling baik.”
“Pasti,Je.Makasih dan maafin gua ya.Telat gua….”
Jeana memotong ucapan Ben”Lo gak telat,gua yang terlalu membisu.Yang jelas gua lega semuanya terungkap dan gua mohon lupain sore ini.”Ben langsung memeluk kecil Jeana hangat.Ben memeluk Jeana karena Jeana sangatlah baik kepada nya dan Rika.Pelukan itu dilepas tepat ketika Rika keluar dari perpus,untung saja Rika tidak mengetauhi semuanya.
Hari ini adalah hari perpisahan dari Jeana.Rika datang tentu saja bersama Ben.Tapi kini Jeana berusaha bersikap seolah-olah dia sudah ikhlas dengan Rika dan Ben.Pesawat Jeana akan terbang sebentar lagi.Rika memeluk erat Jeana,ia sebenarnya tidak rela melepas sahabatnya itu,tapi semua itu sudah membuatnya ikhlas karena demi masa depan Jeana.Selanjutnya beberapa teman sekelas yang mengantarnya juga memeluknya erat dan yang terakhir pelukan hangat dari Ben untuk Jeana.Jeana merasa nyaman dengan pelukan itu.Jeana menikmati setiap detik ,setiap waktunya bersama Ben untuk yang terakhir kalinya.Ia berharap di Belanda,ia mampu melupakan Ben dan segalanya.Dan kini pesawat membawa Jeana keluar dari Indonesia meninggalkan semua cintanya pada Ben.Karena ia tahu,persahabatannya dengan Rika jauh lebih baik,ketimbang ia harus menyakiti Rika.
-AP-
           
                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar